expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Disini

Rabu, 28 Agustus 2013

“Aceh Pungo”, Pembunuhan Nekad Khas Aceh






Oleh: Rusdi Sufi
 
Perang Belanda di Aceh yang meletus sejak tahun 1873 hingga awal abad XX belum berakhir. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat mengakhiri perang yang telah banyak memakan korban, baik di pihak Aceh maupun di pihak Belanda sendiri. Menjelang akhir abad XIX dan pada awal abad XX, Belanda melaksanakan suatu tindakan kekerasan melalui sebuah pasukan elit yang mereka namakan het korps marechaussee (pasukan marsose).




Pasukan ini dari serdadu-serdadu pilihan yang memiliki keberanian dan semangat tempur yang tinggi, dengan tugas untuk melacak dan mengejar para pejuang Aceh melawan Belanda ke segenap pelosok daerah Aceh. Mereka akan membunuh para pejuang Aceh yang berhasil ditemukan atau setidaknya membuang ke luar daerah Aceh.
Dengan cara kekerasan ini Belanda mengharapkan rakyat atau para pejuang akan takut dan menghentikan perlawanan Belanda. Namun apa yang terjadi ? Akibat tindakan kekerasan tersebut telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam bagi para pejuang Aceh yang bersisa, lebih-lebih bagi keluarga mereka tinggalkan, ayah, anak, menantu, sanak keluarga atau kawomnya yang telah menjadi korban keganasan pihak Belanda.
Untuk membalas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Belanda tersebut para pejuang Aceh melakukan suatu cara yang kemudian diistilahkan oleh Belanda dengan nama Atjeh Moorden atau het is een typische Atjeh Moord, Suatu pembunuhan khas Aceh yang orang Aceh sendiri menyebutnya poh kaphe (bunuh kafir). Di sini para pejuang Aceh tidak lagi melakukan peperangan secara bersama-sama atau berkelompok, tetapi secara perseorangan.
Dengan nekad seseorang melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda apakah ia serdadu, orang dewasa, perempuan atau anak-anak sekalipun menjadi sasaran untuk dibunuh. Dan tindakan pembunuhan nekad ini dilakukan di mana saja di jalan, di pasar, di taman-taman atau pun pada tangsi-tangsi sendiri.
Pembunuhan khas Aceh ini antara tahun 1910 – 1920 telah terjadi sebanyak 79 kali dengan korban di pihak Belanda 12 orang mati dan 87 luka-luka, sedang di pihak Aceh 49 tewas. Puncak dari pembunuhan ini terjadi dalam tahun 1913, 1917, dan 1928 yaitu sampai 10 setiap tahunnya. Sedangkan di tahun 1933 dan 1937 masing-masing 6 dan 5 kali. Adapun jumlah korban dalam perang Belanda di Aceh selama sepuluh tahun pada awal abad XX (1899-1909) sebagaimana disebutkan Paul Van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog tidak kurang dari 21.865 jiwa rakyat Aceh.
Dengan kata lain, angka itu hampir 4 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. Angka ini setelah 5 tahun kemudian (1914) naik menjadi 23.198 jiwa dan diperhitungkan seluruh korban jiwa (dari pihak Aceh dan Belanda) dalam kurun waktu tersebut hampir sama dengan yang telah jatuh pada masa perang 1873 – 1899.
Hal ini belum lagi korban yang jatuh setelah tahun 1914 hingga tahun 1942. Salah seorang perwira Belanda yang menjadi korban akibat pembunuhan khas Aceh ini ialah Kapten CE Schmid, komandan Divisi 5 Korp Marsose di Lhoksukon pada tanggal 10 Juli 1933, yang dilakukan oleh Amat Lepon. Sementara pada akhir bulan Nopember 1933 dua orang anak-anak Belanda yang sedang bermain di Taman Sari Kutaradja (sekarang Banda Aceh) juga menjadi korban pembunuhan khas Aceh ini.




Pembunuhan khas Aceh adalah sikap spontanitas rakyat yang tertekan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan Marsose Belanda. Sikap ini juga dijiwai oleh semangat ajaran perang Sabil untuk poh kaphe (bunuh kafir). Di samping itu juga adanya suatu keinginan untuk mendapatkan mati syahid. Dan untuk membalas dendam yang dalam istilah Aceh disebut tueng bila, sebuah istilah yang menggambarkan betapa membara semangat yang dimiliki oleh rakyat Aceh.
Akibat adanya pembunuhan nekad yang dilakukan rakyat Aceh tersebut menyebabkan para pejabat Belanda yang akan ditugaskan ke Aceh berpikir berkali-kali. Dan ada di antara mereka yang tidak mau mengikutsertakan keluarganya (anak-istri) bila bertugas ke Aceh. Malahan ada yang memulangkannya ke negeri Belanda. Para pejabat Belanda di Aceh selalu membayangkan dan memikirkan bahaya Atjeh Moorden tersebut.
Mereka tidak habis pikir, bagaimana hanya dengan seorang saja dan bersenjata rencong yang diselipkan dalam selimut atau bajunya para pejuang Aceh berani melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda, bahkan pada tangsi-tangsi Belanda sekalipun. Oleh karena itu, ada di antara orang Belanda yang menyatakan perbuatan itu “gila” yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang waras, maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda yang menyebutnya Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo (Aceh Gila).
Untuk mengkajinya pihak Belanda mengadakan suatu penelitian psikologis terhadap orang-orang Aceh. Dalam penelitian itu terlibat Dr. R.H. Kern, penasihat pemerintah untuk urusan kebumiputeraan dan Arab, Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perbuatan tersebut (Atjeh Moorden) termasuk gejala-gejala sakit jiwa.
Suatu kesimpulan yang mungkin mengandung kebenaran, tetapi juga mungkin terdapat kekeliruan, mengingat ada gejala-gejala yang tidak terjangkau oleh dasar-dasar pemikiran ilmiah dalam Atjeh Moorden tersebut. Menurut R.H. Kern apa yang dilakukan rakyat Aceh itu adalah perasaan tidak puas akibat mereka telah ditindas oleh orang Belanda karena itu jiwanya akan tetap melawan Belanda.
Dengan kesimpulan bahwa banyak orang sakit jiwa di Aceh, maka pemerintah Belanda kemudian mendirikan rumah sakit jiwa di Sabang. Dr. Latumenten yang menjadi kepala Rumah Sakit Jiwa di Sabang kemudian juga melakukan studi terhadap pelaku-pelaku pembunuhan khas Aceh yang oleh pemerintah Belanda mereka itu diduga telah dihinggapi penyakit syaraf atau gila.
Namun hasil penelitian Dr. Latumenten tersebut menunjukkan bahwa semua pelaku itu adalah orang-orang normal. Dan yang mendorong mereka melakukan perbuatan nekad tersebut adalah karena sifat dendam kepada Belanda yang dimiliki yaitu tueng bila. Untuk itu seharusnya tindakan kekerasan jangan diperlakukan terhadap rakyat Aceh.
Selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijaksanaan baru yang dikenal dengan politik pasifikasi lanjutan gagasan yang dicetuskan oleh C. Snouck Hurgronje. Sesuatu politik yang menunjukkan sifat damai di mana Belanda memperlihatkan sikap lunak kepada rakyat Aceh, mereka tidak lagi bertindak hanya dengan mengandalkan kekerasan, tetapi dengan usaha-usaha lain yang dapat menimbulkan simpati rakyat.

*Penulis Rusdi Sufi, Sejarawan asal Aceh
                 @salamAceh on twitter

-------------------------------------------------------------------------------------

Translate:

                                               "Aceh Pungo", reckless killing Typical Aceh

By: Rusdi Sufi



Dutch Aceh war that erupted since 1873 until the early twentieth century has not ended. Various attempts were made to end the war that has been a lot of casualties, both on the part of the Dutch Aceh as well as in his own. Towards the end of the nineteenth century and the early twentieth century, the Netherlands perform an act of violence by an elite force that they call marechaussee het corps (army Marsose).


 This troop of soldiers who have the courage and the choice of fighting spirit is high, with the task of tracking and pursuing fighters against the Dutch Aceh to all the remote areas of Aceh. They will kill the fighters in Aceh have been found or at least throw out the Aceh region.
The Netherlands by force or the fighters expect people will be scared and stop the Dutch resistance. But what happened? As a result of this violence has caused hatred and revenge were very profound for Aceh fighters who remain, especially for the families they leave behind, father, son, daughter, relative or kawomnya who have become victims of the ferocity of the Netherlands.
To reply to acts of violence committed by the Dutch Aceh fighters doing in a way that later termed by the Netherlands with the name Atjeh Moorden or het is een typische Atjeh Moord, A typical murder Aceh Acehnese themselves call poh kaphe (kill infidels). Here Aceh fighters no longer do battle together or in groups, but as individuals.
With one desperate assault against the Netherlands if he soldiers, adults, women or even children were targeted to be killed. And this desperate act of murder carried out anywhere in the street, in markets, in parks or even in their own barracks.The typical murder Aceh between years 1910 - 1920 have occurred as much as 79 times the casualties in the Netherlands 12 people dead and 87 injured, 49 were in the Aceh were killed. The culmination of these killings occurred in 1913, 1917 and 1928 which is up 10 per year. Whereas in 1933 and 1937, respectively 6 and 5 times. As for the number of casualties in the war in Aceh Netherlands for ten years at the beginning of the XX century (1899-1909) as mentioned in his book Paul Van't Veer De Atjeh Oorlog not less than 21 865 lives of the Acehnese.
In other words, the figure was nearly 4 percent of the total population at that time. This figure is after 5 years later (1914) rose to 23 198 people and accounted for all deaths (from the Aceh and the Netherlands) in the period is almost the same as that had fallen during the war from 1873 to 1899.This is yet another victim fell after 1914 to 1942. One of a Dutch officer who became victims of the Aceh typical murder was Captain CE Schmid, commander of the 5th Division in Lhoksukon Marsose Corps on July 10, 1933, conducted by Amat called. While at the end of November 1933 two Dutch children who were playing in the Taman Sari Kutaradja (now Banda Aceh) is also a murder victim is typical of Aceh.


Aceh is the typical murder spontaneous attitude of the people who pressed for the acts of violence committed Marsose Dutch troops. This attitude is also imbued with the spirit of the teachings of the war for poh kaphe Sabil (kill infidels). In addition, it is also a desire to get martyred. And for revenge that in terms of Aceh called tueng when, a term that describes how a burning spirit of the Acehnese people.
Due to reckless homicide committed the Acehnese cause Dutch officials who will be assigned to Aceh think many times. And any of them who do not want to include his family (wife and children) when assigned to Aceh. In fact there are repatriated to the Netherlands. Dutch officials in Aceh had always imagined and thought of the danger Atjeh Moorden.
They do not believe it, just how alone and armed with a dagger tucked in blankets or clothes Aceh brave fighters attacked the Dutch people, even though the Dutch barracks. Therefore, some of the Dutch people who claimed the act was "crazy" that can not be done by a sane, there arose the term among the Dutch who called it Gekke Atjehsche (Acehnese people crazy), which then popularly known as Aceh Pungo ( Crazy Aceh).
For the Dutch study it conducted a psychological study of the Acehnese people. In a study that involved Dr. R.H. Kern, government adviser for kebumiputeraan and Arab affairs, results of this study states that the act (Atjeh Moorden) including symptoms of mental illness.
A conclusion that may contain truth, but also there may be mistakes, considering there are symptoms that are not affordable by the basics of scientific thinking in the Moorden Atjeh. According R.H. Kern what do the people of Aceh that was caused dissatisfaction they have been oppressed by the Dutch because the soul will remain against the Netherlands.
With the conclusion that many mentally ill people in Aceh, the Dutch government then set up a psychiatric hospital in Sabang. Dr.. Latumenten who became head of the Psychiatric Hospital in Sabang then also did a study of the perpetrators of the murder of a typical Dutch Aceh government they allegedly been seized with neurological disease or mad.
However, the research of Dr.. Latumenten shows that all the perpetrators are normal people. And who encouraged them to do the daring act was revenge against the Netherlands because of the nature of which is owned tueng when. For it should not be treated violence against the people of Aceh.
Furthermore, the Dutch implementing new policy, known as pacification advanced political ideas proposed by C. Snouck Hurgronje. Something that shows the peaceful nature of politics in which the Netherlands showed leniency to the people of Aceh, they no longer act simply by relying on violence, but with other efforts that can cause sympathy of the people.* Rusdi Sufi writer, historian from Aceh






2 komentar:

  1. ArenaDomino Partner Terbaik Untuk Permainan Kartu Anda!
    Halo Bos! Selamat Datang di ( arenakartu.org )
    Arenadomino Situs Judi online terpercaya | Dominoqq | Poker online
    Daftar Arenadomino, Link Alternatif Arenadomino Agen Poker dan Domino Judi Online Terpercaya Di Asia
    Daftar Dan Mainkan Sekarang Juga 1 ID Untuk Semua Game
    ArenaDomino Merupakan Salah Satu Situs Terbesar Yang Menyediakan 9 Permainan Judi Online Seperti Domino Online Poker Indonesia,AduQQ & Masih Banyak Lain nya,Disini Anda Akan Nyaman Bermain :)

    Game Terbaru : Perang Baccarat !!!

    Promo :
    - Bonus Rollingan 0,5%, Setiap Senin
    - Bonus Referral 20% (10%+10%), Seumur Hidup


    Wa :+855964967353
    Line : arena_01
    WeChat : arenadomino
    Yahoo! : arenadomino

    Situs Login : arenakartu.org

    Kini Hadir Deposit via Pulsa Telkomsel ( Online 24 Jam )
    Min. DEPO & WD Rp 20.000,-

    INFO PENTING !!!
    Untuk Kenyamanan Deposit, SANGAT DISARANKAN Untuk Melihat Kembali Rekening Kami Yang Aktif Sebelum Melakukan DEPOSIT di Menu SETOR DANA.

    BalasHapus